Sabtu, 09 Juli 2011
Kamis, 24 Februari 2011
Minggu, 19 Desember 2010
EBEN HAEZER “Sampai Di Sini Tuhan Menolong Kita”
(Oleh: Ev. Iwanwati Suwandi)
EBEN-HAEZER Berasal dari kata –'EBEN, batu (Kejadian 28:11; 29:2; Keluaran 21:18; Imamat 20:2, dan lain-lain), dan kata -'ÊZER, penolong (Kejadian 2:18, 20; Keluaran 18:4;Ulangan 33:7, dan lain-lain). Kata 'EBEN HÂ'ÊZER dapat diartikan “ batu penolong.”
Dalam Perjanjian Lama, kata Eben-Haezer dipakai 3 kali. Yaitu di dalam :
* 1 Samuel 4:1,
"Dan perkataan Samuel sampai ke seluruh Israel. Orang Israel maju berperang melawan orang Filistin dan berkemah dekat Eben-Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek."
* 1 Samuel 5:1,
"Sesudah orang Filistin merampas tabut Allah, maka mereka membawanya dari Eben-Haezer ke Asdod."
* 1 Samuel 7:12,
"Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: 'Sampai di sini TUHAN menolong kita.'
Dan pemakaian kata Eben-Haezer dalam ke -3 ayat di atas memberikan 2 macam pengertian, yaitu :
1.Merupakan nama diri yang merujuk kepada suatu tempat di mana orang Israel dua kali dikalahkan oleh orang Filistin. (1 Sam.4:1 & 1 Sam.5:1)
Daerah ini mungkin merupakan tempat di mana Samuel meletakkan sebuah batu untuk memperingati kemenangan atas orang Filistin (1 Samuel 7:12 - di bawah). Lokasi yang tepat tidak diketahui, sebagian orang menyatakan bahwa lokasinya dekat Bet-Semes, sebagian lagi menyatakan bahwa lokasinya sekitar 10 hingga 12 mil sebelah timur Yope.
2.Merupakan nama diri yang diberikan kepada sebuah batu yang didirikan oleh Samuel untuk memperingati kemenangan bangsa Israel atas orang Filistin 1 Sam.7:12. (Bagian ini menjadi fokus pembahasan kita-penulis)
Sebuah batu yang diletakkan oleh nabi Samuel sebagai batu peringatan. Bukan untuk di sembah, tapi hanya sebagai ‘monumen’ peringatan atas pertolongan Tuhan pada saat itu. Nama tersebut juga memiliki pengertian yang sama dengan maksud dari peletakan batu tersebut. Eben –Haezer : Sampai di sini Tuhan menolong kita.
Untuk memahami lebih dalam bagian 1 Sam.7:12, kita harus memahami latar belakang dari ayat tersebut.
Latar Belakang 1 Sam.7:12
Bangsa Israel di dalam 1 Sam. 5:1, mengalami kekalahan perang yang telak. Bukan saja secara fisik mereka di kalahkan, bahkan secara mental dan rohani mereka di hancurkan, dengan di rebutnya Tabut Allah oleh bangsa Filistin.
Tabut Allah adalah lambang kehadiran dan penyertaan Allah di tengah umatnya. Ketiadaan Tabut Allah di tengah bangsa Israel dapat di artikan sebagai hilangnya pembelaan Allah bagi mereka.
Bagi bangsa Filistin pada awalnya, merampas Tabut Allah merupakan tindakan genius/brillian, Sampai mereka merasakan kemudian, bahwa Tabut Allah justru membawa bencana besar bagi bangsa mereka (pasal 5). Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mengembalikan Tabut Allah kepada bangsa Israel, setelah (pasal 6).
Pada Pasal 7, Tabut Allah sudah di kembalikan bahkan sudah 20 tahun berada di tengah bangsa Israel. Namun pertolongan dan kehadiran Allah tidak dapat dirasakan bangsa Israel, itulah sebabnya mereka mengeluh (7:1-2). Dan akar permasalahannya ada pada ay.3, secara tersirat kita dapati bahwa bangsa Israel selama ini, hidup seperti bangsa kafir. Sekalipun Tabut Allah ada di tengah mereka, namun mereka tidak menyembah kepada Allah, melainkan kepada Baal dan Asytoret (Dewi kesuburan orang Sidon). Itulah sebabnya Allah membiarkan mereka menjadi bulan-bulanan bangsa Filistin.
Kejadian dalam 1 Sam 7:12, dilatar belakangi dengan pertobatan dan perubahan sikap (reformasi) bangsa Israel, yg meresponi ajakan dari nabi Samuel (ay.3). Kali ini ajakan tersebut di respon dengan baik oleh bangsa Israel. Mereka bertobat ,berpuasa, mengakui dosa mereka dan menjauhi Baal dan Asytoret, dan kembali hanya menyembah Allah saja.
Pada titik pertobatan mereka, ujian kembali muncul, bangsa Filistin yang selama ini selalu menghantui kehidupan mereka, kembali berencana menyerang mereka. Namun kali ini mereka benar-benar mencoba untuk hidup benar, dengan belajar mengandalkan Allah dan mempercayaiNya untuk menyelamatkan mereka. Mereka memohon Samuel tidak berhenti memohon bagi mereka kepada Allah, agar mereka di selamatkan dari tangan orang Filistin. Dan Allah menyelamatkan mereka, setelah sekian lama, Allah seolah-olah tidak ada di antara mereka.
Akhirnya terjadilah peristiwa peletakan batu Eben-Haezer, di mana Samuel mengajak bangsa Israel untuk mengingat peristiwa pertolongan Tuhan.
Implikasi dari 1 Sam.7:12
Peletakan batu, Eben-Heazer adalah sebuah ‘Moment’ (saat/waktu) untuk mengingat pertolongan Allah, dan sebagai ucapan syukur atas pertolongan Allah, juga untuk memuliakan Allah. Hal ini sekaligus diharapkan menjadi ‘Momentum’ (dorongan/kemampuan bergerak) bagi bangsa Israel untuk terus mengingat kebaikan Tuhan yang mereka terima saat itu. Sehingga mendorong mereka juga untuk terus mempercayai Allah, yang hidup, yang dapat di percayai dan di andalkan. Karena inilah ‘pertama kalinya’ setelah bertobat, mereka merasakan kembali pertolongan Allah.
‘Sampai di sini Allah telah menolong kita ‘, tidak berbicara tentang pertolongan Allah yang telah selesai. Namun bicara tentang ‘inilah” pertolongan Allah, yang sudah di mulai dan akan berlanjut terus.
Apa yang di dilakukan Samuel (ay.7:12), seharusnya membantu kita untuk dapat memperhatikan ‘moment-moment’ dalam hidup kita, di mana ada saat-saat yg perlu kita ingat, di mana Allah bekerja dengan dasyat menolong kita.
Di dalam hidup saya, moment terbaik, yang pernah saya alami adalah ketika Tuhan Yesus membongkar setiap dosa saya dan membawa saya kepada pertobatan untuk menerima pengampunanNya. Karena setiap teguran/hajaran Tuhan, saya imani sebagai bagian dari pembentukan Tuhan terhadap saya. Ada kelegaan yang luar biasa, ada rasa syukur yang tidak terhingga dan ada dorongan untuk menjadi orang yang lebih baik. Mempercayai FirmanNya dan melakukan FirmanNya menjadi lebih mudah, setelah moment pemulihan. Itulah yang saya bayangkan juga terjadi pada bangsa Israel, ketika mereka mengalami kemenangan atas bangsa Filistin. Bukan sekedar kemenangan secara fisik (menang perang), tapi yang lebih penting mereka menang untuk mempercayai Allah, dan untuk bersandar pada Allah, sekalipun ada kekuatan besar yang mengancam.
Hidup kita sebagai anak Tuhan, perlu memiliki kepekaan untuk mengetahui moment-moment, yang Tuhan berikan, untuk kita syukuri sebagai bagian dari pertolongan Tuhan dalam membentuk kita.
Melihat setiap peristiwa dalam hidup kita, sebagai saat/moment Tuhan menolong kita (membentuk kita), itu akan melahirkan rasa syukur dan perubahan hidup.
Batu ‘Eben-Haezer’ adalah suatu sikap/respons kita terhadap Tuhan Yesus. Dan sebagai orang berdosa, yang sering di ampuni Tuhan Yesus, seharusnya kita sering meletakan ‘Batu Eben-Haezer’(bersyukur, mengakui pertolongan Tuhan dan memuliakan-Nya) dalam hidup kita.
“Aku akan meletakkan Eben-Haezer setiap aku menyelesaikan pekerjaanku, setiap keberhasilan menjalin hubunganku dengan seseorang , setiap keberhasilan dalam pelayananku, dalam keluargaku, dalam kesehatanku, dalam masalah-masalahku, sebagai peringatan untuk mengingatkan aku bahwa Tuhan terus bekerja menolong aku. “
Kiranya ini menjadi motto bagi kita semua!
Minggu, 17 Oktober 2010
PERANG: BOLEHKAH?
Untuk apakah perang? Filsuf ternama, Aristoteles, pernah menulis, “We make war that we may live in peace.” Menurutnya, perdamaian tidak selalu dapat dicapai dengan usaha damai. Perang, dalam berbagai kasus, adalah salah satu alat perdamaian! Tentu tidak semua orang setuju dengan Aristoteles. Sebut saja John. F. Kennedy yang anti-perang. Kennedy meramalkan kehancuran umat manusia bila manusia tidak mengakhiri hobi manusia berperang. Perang bahkan dituding oleh Paus Yohanes XXIII sebagai kejahatan yang tidak sesuai dengan gaya hidup kekristenan. Ia memperingatkan, “For the Christian who believes in Jesus and his gospel, war is an iniquity and a contradiction.”
Telah sejak lama gereja terganggu oleh pertanyaan mengenai perang. Benarkah perang, dalam kasus-kasus tertentu, harus dilakukan untuk menggapai perdamaian? Apakah peperangan selalu berakhir tragis dan destruktif terhadap kemashalatan umat manusia? Apakah perang dan kehidupan Kristen adalah inkompatibel dan kontradiktif? Dapatkah seorang tetap menjadi Kristen dan melayani negara sebagai prajurit? Bagaimanakah kekristenan sepanjang sejarah bersikap terhadap perang? Lantas, bagaimanakah ajaran Alkitab, khususnya pandangan Tuhan Yesus, terhadap perang? Berikut ini dipaparkan secara ringkas dua pandangan utama perihal sikap kekristenan terhadap perang, yakni pasifisme dan just war theory, dan bagaimana kita menyikapi kedua pandangan tersebut.
PASIFISME: ANTI-KEKERASAN
Pasifisme adalah pandangan yang berpendapat bahwa berdasarkan prinsip iman Kristen, tidak ada satu pun perang atau penggunaan kekerasan yang dapat dibenarkan, sekalipun dengan alasan kemanusiaan. Seorang Kristen harus selalu menentang perang dalam kondisi apapun. Posisi ini berangkat dari kesadaran akan adanya pertentangan antara konsep perang dalam Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Di dalam Keluaran 20, TUHAN mengatur suatu hukum perang yang berisi kekerasan tingkat tinggi, yakni ”haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang” (Ul. 20:13). Hal yang kontras diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit: ”Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:43-44). Tuhan Yesus juga memberkati orang-orang yang membawa damai (Mat. 5:9) dan memerintahkan murid-Nya untuk memasukkan ”pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Mat. 26:52). Tuhan Yesus sendiri telah menjadi teladan agung seorang pasifis yang rela menerima kejahatan manusia tanpa membalas.
Atas dasar PB, para penganjur pasifisme merasa bahwa hukum perang di PL yang sarat kekerasan telah dianulir oleh hukum kasih yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tertulianus, seorang bapa gereja abad ketiga, mengatakan bahwa pengajaran Kristus dalam Khotbah di Bukit bila dibandingkan dengan hukum di PL merupakan penyingkapan maksud Allah yang sebenarnya, yaitu bahwa pembalasan adalah hak Allah. Richard B. Hays yang membela pasifisme menegaskan bahwa jika ada prinsip moral PL yang bertentangan dengan PB, maka prinsip moral di PB bersifat normatif dan melampaui hukum moral di PL. Intinya, karena PB mengajarkan prinsip anti-kekerasan, maka perang tidak diperkenankan sama sekali walaupun pernah diizinkan dalam PL.
Pada praktiknya, pasifisme tidak hanya satu jenis. Ada beberapa varian Pasifisme yakni: (1) Pasifisme Universal yang menganggap semua kekerasan dan pembunuhan dalam kasus apapun, baik secara personal, nasional, maupun internasional, adalah kesalahan yang tidak dapat ditolerir. (2) Pasifisme Kristen yang membedakan antara orang Kristen dan non-Kristen. Menurut kelompok ini, orang Kristen tidak diperbolehkan melakukan kekerasaan apapun, namun orang non-Kristen dapat melakukannya dalam kasus tertentu. (3) Pasifisme Pribadi menolak kekerasan atas nama pribadi namun menyetujui perang atas perintah negara yang berlandaskan alasan-alasan tertentu. (4) Pasifisme Anti-Perang yang menolak perang jenis apapun namun mengizinkan kekerasan pribadi demi mempertahankan hak-haknya.
Bagi penentang pasifisme, posisi pasifis mengandung bahaya. Sikap anti-kekerasan seorang Kristen pasifis, khususnya varian (1), (2), dan (3), yang bertolak belakang dengan dunia yang penuh kekerasan akan menempatkannya dalam situasi tidak mengenakkan. Orang Kristen tidak boleh menggunakan kekerasan untuk membela diri maupun orang lain sehingga ini tidak ada bedanya dengan bunuh diri. Namun penganut teori pasifisme punya jawaban yang bagus untuk menjawab kekuatiran ini. Hays menulis bahwa walaupun posisi ini berbahaya, namun orang Kristen perlu mengambil posisi pasifis karena ini merupakan tindakan ketaatan terhadap Allah yang juga telah mengizinkan Anak-Nya untuk mati di atas kayu salib. Ia percaya bahwa ketika kita memilih untuk taat kepada Allah, maka kita dapat berharap rencana Allah yang penuh kasih, yang dinyatakan lewat pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, kendati kita belum mampu melihatnya..
JUST WAR THEORY: TEORI PERANG SUCI
Just war theory adalah pandangan yang percaya ada perang atau penggunaan kekerasan yang dibenarkan demi alasan kemanusiaan. Alasannya, walaupun kasih adalah karakter utama orang Kristen, namun pelaksanaan kasih di dalam dunia yang telah rusak ini tidak dapat dilepaskan dari aspek keadilan yang adakalanya mengandung kekerasan. Penganjur ajaran just war theory setuju bahwa semua perang adalah jahat. Oleh sebab itu, mereka tidak mencoba membenarkan perang, tapi memberikan prinsip-prinsip yang membawa perang itu tidak terlalu jauh melampaui batas-batas keadilan sehingga dapat mengurangi kekerasan yang lebih lanjut.
Adalah Agustinus, seorang bapa gereja abad keempat, yang dianggap sebagai pencetus just war theory. Pada masa itu, kekaisaran Romawi menuduh orang Kristen bertanggungjawab atas melemahnya kekuatan militer negara akibat doktrin kekristenan yang menekankan kasih, kerendahan hati, dan kesabaran terhadap musuh. Demi mendengar tuduhan tersebut, Agustinus menulis sebuah buku terkenal bertajuk City of God yang isinya menjelaskan bahwa kekristenan tidak meniadakan patriotisme, melainkan mengangkat semangat itu hingga pada level ketaatan iman. Menurutnya, perang di dalam PL menunjukkan bahwa Allah memakai perang tertentu untuk membalas kejahatan banga-bangsa tertentu, termasuk Israel. Alih-alih dicap sebagai kejahatan, perang demikian malah dianggap sebagai tindakan kasih (an act of love) karena mencegah dosa yang lebih besar. Kasih tidak selalu bertentangan dengan penggunaan kekerasan, demikian pikir Agustinus. Lagipula, di dalam PB tidak pernah ada perintah untuk meninggalkan profesi keprajuritan yang sarat kekerasan, bahkan beberapa profesi menyinggung profesi prajurit (mis. Luk. 3:14-15; Mat. 8:5-13; Kis. 10:1-11:18). Teolog besar lain yang mendukung teori ini adalah dua bapa reformator gereja, yaitu Martin Luther dan John Calvin. Martin Luther bersikukuh bahwa tanpa militer mustahil perdamaian dapat dijaga. Ia meyakini perang harus dilakukan dalam kasus ketidakadilan dan memulihkan perdamaian yang terkoyak oleh kejahatan. John Calvin sebagaimana dituangkan dalam magnum opus-nya, “Institutes of the Christian Religion” juga sepakat bahwa pemerintah memiliki hak untuk mempertahankan perdamaian pemerintahannya dengan mengandalkan persenjataan dan perang.
Walaupun diizinkan, perang tidak dapat serta merta dilakukan seenak perut orang yang menginginkannya. Thomas Aquinas, teolog besar dari abad 12 memberikan beberapa pedoman pelaksanaan perang suci. Pertama, perang yang benar harus disetujui oleh pihak yang berotoritas yakni pemerintah yang sah. Kedua, perang dapat dilakukan hanya atas dasar alasan yang benar. Ketiga, perang harus dilakukan dengan maksud yang baik untuk mencapai kebaikan dan menghindari kejahatan yang lebih besar.
PASIFISME VERSUS JUST WAR THEORY DALAM SEJARAH GEREJA
Kendati tradisi pasifisme dipegang oleh gereja mula-mula, harus diakui ada beberapa fakta yang menunjukkan keterlibatan orang Kristen dalam aktivitas militer kekaisaran Romawi. Keterlibatan orang Kristen dalam kemiliteran kekaisaran Romawi semakin memuncak pada abad keempat, yakni ketika Kaisar Konstantinus bertobat menjadi Kristen dan kekristenan menjadi agama nasional. Apalagi pada waktu itu sedang ada serangan dari suku Barbar sehingga orang Kristen tidak dapat lagi menikmati keamanan hanya dengan berpangku tangan. Sementara itu, dukungan bagi orang Kristen untuk terlibat dalam perang juga didengungkan oleh bapa gereja kala itu, Agustinus, sehingga secara teoritis dimungkinkan untuk menjadi seorang Kristen sekaligus prajurit.
Permulaan abad pertengahan diwarnai oleh pandangan pasifisme. Kala itu, menjadi ksatria bukanlah posisi yang istimewa karena pasifisme merupakan pandangan yang dominan. Akan tetapi memasuki abad 11, gereja mengambil sikap yang lebih terbuka terhadap perang yang pada akhirnya berujung pada Perang Salib. Pada 1095 di Council of Claremont, Paus Urban II mendorong umat Kristen untuk menyetujui rencana perang demi membebaskan Timur Tengah dari kekuasaan orang-orang kafir Turki. Di dalam khotbahnya, orang-orang Turki itu dituduh telah melecehkan dan menodai keristenan serta memperkosa para wanita Kristen. Paus Urban II menjanjikan pengampunan dosa bagi mereka yang meresponi panggilan perang suci dari gereja. Dengan demikian, pasifisme ditinggalkan dan just war theory menjadi populer.
Pada era Renaissance dan Reformasi, kerajaan-kerajaan di Eropa terbagi-bagi ke dalam dinasti-dinasti monarki yang memunculkan persaingan di antara raja-raja. Alhasil, perang tidak dapat dihindarkan. Bila perang-perang di abad pertengahan adalah antara kekristenan melawan orang kafir, maka pada masa ini peperangan terjadi di antara negara Kristen. Peperangan sesama Kristen ini meresahkan banyak teolog, salah satunya Erasmus yang menegaskan bahwa tidak ada hal lain yang lebih bertentangan dengan ajaran Kristus selain perang. Di masa ini terjadi kebangkitan kelompok-kelompok pasifis yang menentang perang, seperti Kelompok Persaudaraan Swiss, Anabaptis, Mennonite, dan the Quakers. Akan tetapi para reformator seperti Martin Luther dan John Calvin tetap yakin pada just war theory.
YANG MANAKAH YANG BENAR: PASIFISME ATAU JUST WAR THEORY?
Dari pemaparan sejarah gereja di atas, tampak kedua pandangan terhadap perang ini muncul silih berganti dan tak jarang berselisih secara tajam. Yang manakah yang benar? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memperhatikan setidaknya dua isu utama pertikaian antara kubu pasifisme dan kubu just war theory. Pertama, apakah kaitan antara hukum moral dalam PL dan PB? Apakah benar hukum kasih dalam PB telah membatalkan hukum perang dalam PL? Kedua, Apakah hubungan antara kasih dan keadilan, khususnya dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa ini? Pasifisme menekankan kasih secara mutlak sedangkan penganut just war theory mengangkat isu keadilan sebagai pelengkap aspek kasih.
Isu pertama harus dipahami dari Matius 5:17-20. Di dalam perikop tersebut, Tuhan Yesus menyatakan tiga sikap-Nya (dari sudut pandang PB) terhadap hukum PL. Pertama, di ayat 17 Ia menyatakan bahwa kedatangan-Nya bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya. Jadi ajaran Yesus tidak menggagalkan PL, namun menyingkapkan maksud Allah di dalam PL, termasuk dalam kasus hukum perang. Kedua, ayat 18 menegaskan bahwa selama belum lenyap langit dan bumi ini, tidak ada satu iota atau satu titik pun yang akan ditiadakan dari hukum Taurat. Artinya, kita tidak dapat berkata hukum tertentu telah dibatalkan oleh Allah dalam PB. Ketiga, ayat 19-20 mengindikasikan pentingnya hukum Taurat untuk mencapai hidup yang lebih tinggi (benar) daripada orang-orang Farisi. Artinya, mengajar dan melakukan hukum Taurat merupakan tempat yang terhormat dalam PB. Ketiga hal ini menjadi masalah besar buat pasifis bila menganggap prinsip moral dalam PL tidak berlaku lagi sebab dengan demikian ia harus membuang sebagian besar PL; sedangkan penganut just war theory tidak akan mengalami masalah dengan ini. Namun perlu dicamkan oleh penganut just war theory, konsep perang dalam PL sangat berbeda dengan perang-perang yang dialami oleh manusia sepanjang sejarah sehingga mereka tidak dapat serta merta menarik garis paralel antara perang di PL dengan perang masa kini. Pada hakikatnya, yang ditekankan oleh PL bukanlah ”perang” itu sendiri, melainkan sikap Allah terhadap dosa dan kejahatan. Lagipula, ada indikasi yang kuat dalam PB bahwa perang tetap merupakan sarana sosial untuk berurusan dengan dosa, ketidakadilan, dan kekacauan, yakni melalui pemerintah yang berasal dari Allah (Rm. 13:1-7) dan melalui kehadiran peran prajurit dalam komunitas orang percaya (Mat. 8:5-13; Luk. 3:12-14; Kis. 10:22).
Isu yang kedua berkaitan dengan hubungan antara keadilan dan kasih. Henry Stobb menegaskan adanya hubungan timbal balik antara kasih dan keadilan yang tidak mungkin dipisahkan. Kasih di dalam dunia yang telah rusak selalu menuntut keadilan. Masyarakat yang mengasihi adalah masyarakat yang dapat mewujudkan keadilan sosial, dan di lain pihak, keadilan sosial adalah sarana yang kondusif bagi pelaksanaan kasih. Hal ini didasarkan atas sikap Allah terhadap umat-Nya yang tidak hanya menekankan kasih semata, namun juga keadilan. Ia yang penuh kasih juga merupakan ”api” yang menghanguskan bagi mereka yang terus hidup dalam kefasikan (Ul. 4:24; Ibr. 12:29). Tidak boleh ada penekanan yang tidak seimbang pada salah satu aspek karakter Allah. Prinsip kasih dan keadilan ini memberi peluang bagi perang yang bisa dibenarkan, namun kompleksnya isu perang ini tetap merupakan isu yang tidak dapat digampangkan dan perlu dikaji secara serius. Kompleksitas ini juga diperparah dengan fakta bahwa walaupun motivasi perang sudah benar, namun pada praktiknya ada banyak pelanggaran yang dilakukan bahkan oleh orang-orang Kristen karena natur kemanusiaannya yang berdosa. Tambahan pula, pada zaman perang nuklir seperti ini, sulit untuk melakukan just war karena tidak ada batasan lagi dalam target pemusnahan massal.
JADI BAGAIMANA?
Dari pembahasan di atas, tampaknya posisi just war theory lebih dapat diterima. Namun ini tidak berarti pasifisme perlu dipertentangkan dengan just war theory. Penganut pasifisme dan just war theory sama-sama merupakan kelompok yang berangkat dari asumsi perdamaian secara aktif. Pasifisme, sama seperti just war theory, bukanlah posisi pasif, namun justru dengan aktif memperjuangkan perdamaian. Bedanya, pasifisme bertindak secara ideal menurut hukum moral dalam Khotbah di Bukit, sedangkan just war theory mencoba hidup realistis dalam dunia yang telah rusak dengan menyadari adanya paradoks antara yang ideal (yang belum digenapi secara penuh di masa kini) dan yang realistis (yakni bahwa dunia telah berdosa dan belum dipulihkan secara utuh). Sambil menunggu penggenapan dunia yang sempurna lewat kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, marilah kita mengingat peringatan rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, ”Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Rm. 12:18)
Rabu, 22 September 2010
Sabtu, 26 Desember 2009
“Manusia Abadi”
Setiap orang yang membaca tema ini rasanya akan tergoda daya imajinasinya untuk mencoba menggambarkan seperti apakah manusia abadi itu. Mungkin sebagian orang menggambarkan manusia abadi dengan wujud manusia setengah dewa (pastinya yang laki ganteng-ganteng dan yang perempuan cantik-cantik) yang mempunyai banyak kemampuan serta kekuatan dan perawakannya pun tidak jauh beda seperti yang digambarkan dalam kisah dewa-dewa Yunani. Manusia setengah dewa itu tinggal di sebuah negeri di awan yang mana negeri itu diperintah oleh seorang raja yang adil, arif lagi bijaksana. Di negeri di awan itu mereka hidup untuk selama-lamanya dalam keadaan aman, tentram dan damai (wah asyiknya…! Kayak cerita di TV yach?). Atau sebagian orang lagi pikirannya langsung tertuju kepada sebuah puisi yang pernah ditulis oleh Chairil Anwar dengan judul “Aku Mau Hidup Seribu Tahun lagi”. Ungkapan seribu tahun lagi mungkin bukan dimaksudkan sebagai jumlah bilangan tertentu, yaitu benar-benar seribu tahun. Tapi mungkin diartikan sebagai suatu masa yang tidak terbatas (bisa dalam pengertian abadi). Sang penulis ingin tetap dan bahkan terus hidup, hidup dan hidup tanpa dibatasi oleh sang waktu.
Namun, mari saat ini kita melihat dari sudut pandang Alkitab. Apa yang Alkitab katakan tentang keabadian. Dan secara khusus kita akan melihatnya dari sisi kitab Pengkhotbah. Sebelumnya, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu arti dari kata ”kekal”. Kata ini sinonim dengan kata ”abadi” karena memang keduanya mempunyai pengertian yang sama. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka juga memberikan pengertian yang sama terhadap kedua kata ini. Abadi artinya kekal; tidak berkesudahan. Kekal artinya tetap (tidak berubah, tidak bergeser, dsb) selama-lamanya; abadi; lestari. Keabadian artinya kekekalan; tempat yang abadi (alam baka). Dan kekekalan artinya perihal (yang bersifat, berciri) tetap selama-lamanya; keabadian; kelestarian.
Untuk pengertian ”kekal” dan ”kekekalan” orang Yunani memakai perkataan ”aion” dan ”aionios”. Ahli filsafat seperti Plato mengartikan perkataan kekekalan itu dengan suatu zaman yang tidak ada harinya, bulannya ataupun tahunnya, yaitu suatu masa yang tidak ada penghabisannya. Di dalam Perjanjian Baru kita menemui perkataan ”aion” itu dalam arti masa yang lama waktunya; kekekalan. Kekekalan adalah salah satu atribut Allah (Roma 16:26; I Tim. 1:17; 6:16). Allah itu keberadaan-Nya dari kekal sampai kekal. Dari sebelum penciptaan alam semesta Allah itu sudah ada, dan masih ada, dan akan tetap ada, walaupun langit dan bumi sudah berlalu (Ibrani 1:10-11). Jadi, intinya Allah yang kita percaya dan kita sembah dalam nama Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus adalah Allah yang kekal.
”Kefanaan” dan ”Kesementaraan” adalah lawan kata dari ”Kekekalan” dan ”Keabadian”. Fana artinya dapat rusak (hilang, mati); tidak kekal. Sementara artinya beberapa lamanya; tidak selamanya; tidak untuk selama-lamanya. Berarti dengan kata lain ”fana” dan ”sementara” menjelaskan tentang keterbatasan, suatu masa yang ada batasnya atau ada awal dan akhirnya. Nah, bagaimana dengan manusia? Setelah kita berbicara mengenai Allah yang adalah kekal adanya, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah sebagai makhluk apakah manusia itu, abadi atau fana? Jangan terburu-buru untuk memberi jawaban. Karena untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali kepada sejarah penciptaan manusia. Perhatikanlah dua nats Alkitab berikut ini. Kejadian 1:27 yang berbunyi, ”Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. Kejaian 2:7 yang berbunyi, ”Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”. Dua ayat tersebut memberi penjelasan tentang bagaimana Allah menciptakan manusia.
Seorang teolog terkenal yang bernama R.C. Sproul di dalam bukunya yang berjudul ”Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen” menulis demikian, ”Manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah adalah makhluk yang dibuat dari tubuh yang bersifat materi dan jiwa yang bukan materi. Jiwa kadang-kadang disebut sebagai roh”. Senada dengan kalimat itu maka seorang Teolog lain yang bernama Louis Berkhof di dalam kumpulan bukunya tentang ”Teologi Sistematika – Doktrin Manusia” beliau menulis demikian, ”Dalam kejadian 2:7 ada suatu perbedaan yang jelas antara asal mula tubuh dan asal mula jiwa. Tubuh dibentuk dari debu tanah; dalam penciptaan tubuh ini Allah memakai materi yang sudah ada terlebih dahulu. Akan tetapi dalam penciptaan jiwa Allah tidak memakai materi yang sudah ada sebelumnya, tetapi Allah menciptakan substansi baru. Jiwa manusia sungguh-sungguh sebuah ciptaan Allah yang baru. Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia dan manusia menjadi makhluk yang hidup. Dalam kalimat sederhana ini kedua natur manusia jelas dinyatakan...Kedua elemen ini adalah tubuh dan nafas atau roh kehidupan yang dihembuskan Allah pada manusia dan oleh penggabungan dari keduanya manusia menjadi makhluk yang hidup yang berarti keberadaan yang hidup”.
Allah melakukan penciptaan mulai dari hari pertama sampai hari keenam. Pada setiap akhir penciptaan mulai dari hari pertama sampai hari kelima Alkitab menutup dengan sebuah kalimat ”Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Tetapi pada saat Allah menciptakan manusia pada hari keenam barulah ”Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik”. Secara kronologis Allah terlebih dahulu menciptakan alam semesta ini dan segala isinya. Setelah itu barulah Allah menciptakan manusia. Hal ini ingin menunjukkan bahwa segala sesuatu yang mendahului penciptaan manusia ini dipersiapkan untuk membuat tempat tinggal yang sesuai bagi manusia sebagai raja atas semua ciptaan. Sungguh keindahan yang tak terbayangkan terjadi pada saat itu. Namun tragis, keindahan itu menjadi rusak pada saat manusia berdosa kepada Allah, melanggar perintah Allah, yaitu dengan cara memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kejadian 2:17). Seketika itu juga gambar dan rupa Allah yang ada di dalam diri manusia menjadi rusak.
Sebagai makhluk yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah maka manusia mempunyai beberapa ciri seperti Allah. Dan beberapa hal di antaranya adalah:
1. Roh
Allah adalah roh, maka wajar jika kita beranggapan bahwa elemen kerohanian ada juga di dalam diri manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Oleh karena itu selain sebagai makhluk jasmani (karena memiliki tubuh) manusia juga disebut sebagai makhluk rohani/ spiritual. Roh inilah yang memampukan manusia untuk dapat membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan.
2. Kekekalan
Kekekalan yang dimiliki oleh manusia tidaklah sama dengan yang dimiliki oleh Allah. Alkitab menyatakan bahwa Allah saja yang kekal (I Tim. 6:16). Hanya Allah saja yang memiliki kekekalan sebagai kualitas esensial sedangkan kekekalan manusia adalah pemberian, yang diperoleh dari Allah. Allah kekal adanya dari dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Kekekalan Allah tiada awalnya dan tiada akhirnya. Sedangkan manusia meskipun kehidupannya tanpa akhir (kekal) tetapi manusia mempunyai titik awal penciptaan. Hal ini tidak dapat dikatakan kekal seperti Allah karena manusia ada titik awal diciptakan. Namun kekekalan manusia itupun tidaklah di semua bagian. Bagian yang dikatakan kekal di dalam diri manusia adalah rohnya sedangkan tubuh jasmaninya tidak kekal (fana) karena akibat dari dosa. Itulah sebabnya manusia itu secara roh adalah abadi tetapi secara fisik adalah fana.
Kejadian 2:17 mengatakan, ”Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”. Hukuman yang harus diterima manusia karena melanggar perintah Allah adalah kematian. Kematian seperti apa yang dimaksud oleh Alkitab? Ada tiga macam kematian:
1. Kematian fisik
Kematian fisik adalah terpisahnya tubuh dari roh. Kejadian 3:19 mengatakan, ”...sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu”. Hal ini membuktikan kefanaan/ kesementaraan tubuh fisik manusia yang harus mengalami kematian sebagai hukuman atas dosa.
2. Kematian rohani
Sebelum kejatuhan, Allah dan Adam saling bersekutu satu sama lain; setelah kejatuhan, persekutuan itu terputus. Itulah yang disebut sebagai kematian rohani. Kematian rohani merupakan terpisahnya roh dari Allah. Hukuman yang dinyatakan di Taman Eden dan telah menimpa umat manusia, terutama berarti kematian rohani. Dengan kematian rohani manusia tidak lagi menikmati kehadiran dan kebaikan hati Allah dan juga tidak lagi mengenal dan merindukan Allah.
3. Kematian kekal
Kematian kekal adalah puncak dan kegenapan dari kematian rohani. Kematian kekal adalah terpisahnya roh dari Allah untuk selama-lamanya (kekal), bersamaan dengan penyesalan yang dalam dan berbagai hukuman. ”Mereka ini akan mengalami hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya” (II Tes. 1:9). ”...mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua” (Wahyu 21:8).
Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus mengalami dua kali kelahiran, yaitu kelahiran fisik dan lahir baru oleh Roh Kudus; dan hanya satu kali kematian, yaitu kematian fisik. Tetapi orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus hanya mengalami satu kali kelahiran, yaitu kelahiran fisik; dan dua kali kematian, yaitu kematian fisik dan kematian kekal di neraka. Penjelasan ini menyadarkan kita bahwa tubuh fisik/ jasmani kita ini adalah fana/ sementara adanya karena suatu saat nanti pasti akan mengalami yang namanya kematian fisik. Dan roh kita itu kekal adanya yang mana kelak hanya ada dua pilihan, yaitu menikmati kehidupan kekal di Sorga atau mengalami kematian kekal di neraka.
Pertanyaan yang muncul adalah untuk apalagi manusia hidup di dunia ini jikalau ternyata tubuh dan hidup ini fana adanya? Dan bukankah Pengkhotbah juga mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di bawah langit itu semuanya adalah kesia-siaan? Bukankah Pengkhotbah juga memandang kehidupan ini dengan pesimis? Harus diingat bahwa pada awal Tuhan melakukan penciptaan, maka terhadap apa yang diciptakan-Nya Tuhan berkata ”semuanya itu baik”. Bahkan setelah menciptakan manusia Tuhan berkata ”sungguh amat baik”. Berarti tidak ada yang jelek dari penciptaan Tuhan dan juga tidak ada dosa di dalamnya. Tapi pada saat manusia berdosa kepada Tuhan maka semuanya menjadi rusak dan mulai berubah. Dan yang lebih mengenaskan adalah kematian harus dialami oleh manusia. Tapi mengapa pada saat itu manusia tidak langsung mengalami kematian lalu Tuhan menciptakan manusia yang baru? Di titik inilah kita melihat belas kasihan dan anugerah Tuhan atas manusia. Bukan perkara sulit bagi Tuhan untuk menghukum mati manusia pada saat itu juga. Tetapi Tuhan memberi anugerah kepada manusia dengan membiarkannya tetap hidup dengan harapan supaya manusia mau bertobat dan memperbaiki diri. Bangkit kembali dari kematian rohani (percaya kepada Tuhan dengan lebih sungguh dan kembali membangun persekutuan dengan-Nya) sehingga pada akhirnya mereka terhindar dari kematian kekal di neraka.
...karena Dia juga adalah Tuhan yang kekal. Jadi, Tuhan menciptakan kita sebenarnya bukan untuk kesementaraan tapi untuk kekekalan.
Dibandingkan dengan kekekalan/ keabadian maka waktu hidup kita di dunia ini hanyalah sementara, sekejap saja, singkat, fana. Bahkan Yakobus menggambarkan hidup manusia itu seperti uap yang sebentar ada lalu dengan cepatnya menghilang. Tetapi jangan pernah sekali-kali kita meremehkan singkatnya hidup di bumi ini karena ternyata perbuatan-perbuatan kita di kehidupan ini akan sangat menentukan keadaan kita di kehidupan berikutnya (kekekalan). Di dalam singkat dan fananya hidup ini maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan, yaitu:
1. Ingatlah pencipta kita (Pengkhotbah 12:1)
Tuhan menciptakan kita sesuai dengan gambar dan rupa-Nya sendiri. Itulah sebabnya Dia memberikan kekekalan dalam hati kita (Pengkhotbah 3:11) karena Dia juga adalah Tuhan yang kekal. Jadi, Tuhan menciptakan kita sebenarnya bukan untuk kesementaraan tapi untuk kekekalan. Dan karena Dia memberikan kekekalan dalam hati kita, sebenarnya kita pun secara naluri merindukan kekekalan itu. Namun sayang seringkali di dalam kemudaan kita maka waktu yang ada kita habiskan hanya untuk bersenang-senang dan memuaskan nafsu kedagingan. Karena kita berpikir hidup di dunia ini hanya sementara dan begitu singkat, sebab itu jangan disia-siakan. Itu berarti kita tidak ingat pencipta kita yang sudah memberi kekekalan di hati kita dan kita juga membohongi naluri kita sendiri yang sebenarnya merindukan kekekalan. Walaupun kita masih hidup di bumi ini tapi janganlah kita hanya terfokus kepada hidup yang sementara ini. Ingatlah pencipta kita maka pasti kita disadarkan bahwa ternyata kita diciptakan untuk kekekalan. Dan kekekalan hanya menawarkan dua pilihan, yaitu Sorga atau neraka. Bagaimana caranya agar kita dapat menikmati kekekalan di Sorga?
2. Takutlah akan Tuhan (Pengkhotbah 12:13)
Tidak ada cara lain untuk dapat menikmati kekekalan di Sorga selain daripada takut akan Tuhan dan percaya bahwa hanya Dialah Juruselamat kita. Inilah juga yang tertulis dalam Injil Yohanes 3:15-16, 36 bahwa hanya dengan percaya kepada Yesus saja maka kita akan beroleh hidup yang kekal. Anugerah hidup kekal itu adalah milik Tuhan. Jika kita belajar untuk mengasihi dan mempercayai Anak Allah, yaitu Yesus Kristus, maka kita diundang untuk menikmati kekekalan di Sorga bersama dengan Dia. Namun sebaliknya, jika kita menolak kasih, pengampunan dan keselamatan-Nya maka kita akan menghabiskan kekekalan itu dengan terpisah dari Allah selama-lamanya lalu menjalani hukuman di neraka.
3. Peganglah perintah Tuhan (Pengkhotbah 12:13)
Tuhan bukan hanya menghendaki kita untuk menikmati kekekalan bersama dengan Dia di Sorga. Tapi Dia juga menghendaki selama kita hidup di bumi ini kita harus senantiasa hidup benar dan sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu Tuhan memberi perintah-perintah-Nya kepada kita, yang mana sudah tertuang di dalam Alkitab, dan haruslah kita memegang dan mentaatinya agar hidup kita berhasil.
4. Berbuah bagi sesama (Filipi 1:22)
Hidup ini hanyalah sementara walau kitapun tidak tahu kapan kita akan mengakhiri hidup di dunia ini. Tapi jika kita harus mati maka itu adalah keuntungan karena kita akan menikmati kekekalan di Sorga bersama dengan Tuhan. Dan jika kita harus hidup maka itulah kesempatan yang masih Tuhan berikan kepada kita untuk menunjukkan hidup yang berbuah (hidup yang berguna dan menjadi berkat bagi orang lain).
5. Bersaksi kepada sesama (Kisah Para Rasul 1:8)
Tuhan merindukan agar orang lain juga diselamatkan dan menikmati kekekalan bersama dengan Dia di Sorga. Bagaimana caranya? Orang lain itupun harus percaya kepada Yesus Kristus. Dan supaya mereka dapat percaya kepada Yesus maka Dia ingin memakai kita untuk memberitakan nama-Nya kepada mereka.
Kitab Pengkhotbah pada awalnya melihat bahwa hidup di bawah langit ini sia-sia belaka. Tetapi di akhir kitabnya dia menulis bahwa hidup yang singkat dan fana ini tidak akan menjadi sia-sia apabila kita percaya kepada Yesus Kristus. Karena hanya dengan percaya kepada Yesus, kita akan menikmati kekekalan bersama dengan Dia di Sorga. Mau...???
Rabu, 03 Juni 2009
BERAKAR DI DALAM DIA
Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia,
hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu
dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”
LATAR BELAKANG
Kutipan ayat di atas berasal dari Kolose 2:6-7, sebuah nasehat dari rasul Paulus kepada jemaat di Kolose agar mereka tetap di dalam Kristus dan bukan hanya tetap dan setia tetapi juga berakar, dibangun, bertambah teguh dan melimpah dengan syukur. Bukan kebetulan jika Kolose 2:6-7 menjadi dasar landasan bagi Repelita IV 2009-2014 GKI Jatinegara. Tema besarnyapun diambil dari salah satu kalimat ayat-ayat tersebut, yaitu ”Berakar di dalam Dia”
Penetapan tema besar ”Berakar di dalam Dia” memiliki latar belakang sebagai berikut:
1. Melihat fakta di lapangan yaitu banyak jemaat GKI Jatinegara kurang memiliki pengetahuan iman Kristen. Kurangnya pengetahuan iman ini menyebabkan mudahnya jemaat bingung menemukan jawaban ketika berhadapan dengan berbagai masalah dan pertanyaan seputar iman Kristennya dan kehidupan sehari-hari. Akibatnya mudah dilihat, jemaat mengalami kebingungan dan terombang-ambing.
2. Jemaat GKI Jatinegara telah cukup memiliki kebersamaan dan kekompakkan. Rasa kekeluargaan kental, tetapi dasar iman Kristennya masih lemah. Mudah tersinggung, mudah undur, kecewa dan sebagainya menjadi bukti kurang kuatnya iman jemaat.
Keadaan seperti ini tentu saja tidak boleh didiamkan. Majelis Jemaat harus membuat satu terobosan program. Terobosan tersebut diawali dengan penetapan Kolose 2:6-7 sebagai ayat utama dan ”Berakar di dalam Dia” sebagai Tema Besar. Seluruh Bidang dan Komisi -apalagi Komisi Pemuda- harus mendukung tema tersebut dan mengarahkan semua program untuk mencapai tujuan dari tema tersebut.
TUJUAN TEMA
Tema ”Berakar di dalam Dia” memiliki tujuan, yaitu:
1. Membangun iman jemaat GKI Jatinegara agar kuat, benar dan dewasa dalam segala hal ke arah Kristus yang adalah kepala. (lihat Visi GKI Jatinegara di halaman belakang warta jemaat)
2. Memperlengkapi jemaat agar memiliki pengetahuan teologia yang cukup sehingga dapat menjadi jemaat yang berkualitas dan tidak mudah diombang-ambingkan.
Sebagai bagian tak terpisahkan dari GKI Jatinegara, Komisi Pemuda diharapkan dapat memainkan peranannya, yaitu menjadi tiang utama atau motor penggerak GKI Jatinegara dalam mencapai tujuan tema besar tersebut.
PENDALAMAN TEMA BERAKAR
Kata berakar dari kata Yunani rhiza yang artinya tunas, akar atau sesuatu yang vital yang menentukan kuat-lemahnya dan tegak-robohnya satu pohon. Secara simbolis, akar menunjukkan satu dasar untuk membangun sesuatu diatasnya.
Segala sesuatu di dunia ini memerlukan dasar: dasar pohon disebut akar, dasar bangunan disebut pondasi, dasar negara disebut undang-undang dasar. Di atas akar sebuah pohon berdiri. Di atas pondasi sebuah bangunan berdiri dan diatas undang-undang sebuah negara dibangun.
Jika akarnya kuat, pohon pasti kuat. Demikian juga dengan bangunan dan negara.
Pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah dasar dari Kekristenan? Jawabanya adalah iman yang dibangun di dalam Tuhan Yesus. Imannya kuat, maka kekristenanya akan kuat. Imannya mundur maka mundur juga kekristenannya. Dari sinilah kita sadar membangun kekristenan harus membangun iman di dalam Tuhan Yesus dan FirmanNya. Janganlah membangun iman kristen di dalam berhala, iblis dan kuasa-kuasa lain.
ARAHAN TEMA REPELITA IV 2009-2014
1. Membuat Tema yang Unik dan Kreatif.
Bidang Persekutuan, Bidang Pembangunan Jemaat dan semua komisi, khususnya komisi Pemuda agar menyusun program 2009-2010 dengan memperbanyak pembinaan-pembinaan iman yang menarik dan up to date. Yang dimaksud dengan menarik adalah buatlah bentuk-bentuk pembinaan yang unik dan kreatif, tidak melulu satu arah, seperti, kotbah, ceramah dll. Diskusi kelompol, diskusi kasus, bedah film atau buku adalah sedikit contoh kreatifitas. Yang dimaksud dengan up to date adalah topik-topik pembinaan dengan tema yang sedang ngetrend di masyarakat.
2. Kelompok Sel
Membentuk kelompok-kelompok sel (komsel) percontohan. Maksudnya adalah tidak membuat banyak komsel dan melibatkan banyak jemaat tetapi membuat beberapa komsel yang dijadikan percontohan dan daya tarik. Para ketua dipilih dan dilatih.
Kelas Bina Iman (KBI) yang dilaksanakan pada program tahun lalu, akan direvitalisasi menjadi Kelompok Bina Iman (KBI) pada program tahun ini.
3. Forum Bina Iman
Forum ini terus diadakan untuk umum dengan beberapa perubahan bentuk dan model penyampaian.
APA PERANAN KP?
Apa peranan KP dalam pencapaian tujuan tema besar 2009-2010? Sungguh bukan klise jika dikatakan pemuda adalah masa depan gereja. Satu langkah lagi, mereka dapat menjadi pemimpin-pemimpin gereja. Oleh sebab itu, diminta KP ikut aktif dalam kegiatan KBI baik terlibat sebagai anggota ataupun sebagai ketua KBI. KP harus menjadi jemaat yang berkualitas, yaitu jemaat pemuda yang memiliki pengetahuan dasar teologia Kristen yang kuat. KP jangan hanya menikmati dunianya sendiri, ia harus berani membuka diri dan menjadi motor penggerak semua lapisan jemaat.
TENTANG KOMISI PEMUDA
Dalam pengamatan tentang KP GKI Jatinegara, dilihat bahwa semua anggota dan pengurus sudah kompak. Hanya saja tingkat kerohanian tidak merata. Ada pemuda yang begitu baik kerohaniannya tetapi ada juga yang kurang. Ini bisa dilihat dari gaya kehidupan dan kerajinan membaca Alkitab dan berdoa setiap hari serta kerinduan untuk selalu bersaksi bagi Kristus di manapun mereka berada. Ada pemuda yang rajin kebaktian minggu, tetapi ada yang malah tidak ikut menguduskan hari Sabat.
Tingkat partisipasi di jemaat juga belum merata. Ada pemuda yang begitu aktif, terlibat di kegiatan ini itu, sering sekali ada di gereja, ada di banyak kepanitiaan dan ikut rapat ini dan itu. Tetapi ada juga pemuda yang jarang terlihat di gereja. Tidak aktif ikut ini dan itu, paling banter ikut persekutuan pemuda hari Sabtu dan futsal.
Tugas pengurus KP memang tidak ringan, yaitu bagaimana menyeimbangkan ketidak-seimbangan ini. Jika sekiranya pemuda memiliki tingkat kerohanian dan partisipasi di gereja yang merata, maka pasti Komisi Pemuda dan GKI Jatinegara akan jauh lebih maju.
PESAN UNTUK SETIAP PEMUDA
Pemuda harus memiliki akar kerohanian yang kuat. Imannya harus dibangun diatas dasar yang teguh yaitu firman Tuhan. Di masa muda, kaum muda banyak tantangan: karier, jodoh, keluarga, keuangan, seks bebas, semua itu menjadi penghancur iman kerohanian pemuda. Banyak pemuda mengejar karier tanpa Tuhan Yesus. Banyak pemuda menukar iman kristennya gara-gara jodoh. Tidak sedikit pemuda tidak aktif di gereja karena keluarga. Sering terlihat pemuda jauh dari kekudusan ketika berhadapan dengan uang dan seks.
Inilah pesan untuk semua pemuda: Harus memiliki akar iman yang kuat. Seimbangkan, sekali lagi seimbangkan antara pelayanan dan karier; antara kesibukan mencari uang dengan kesibukan gerejawi. Ibadah hari Minggu mutlak perlu. Persekutuan pemuda Sabtu sore bukan Ibadah. Itu hanya persekutuan membina persahabatan antar pemuda. Tetapi, hari Minggu itu adalah Ibadah. Pemuda harus datang, duduk, diam, bersikap hormat karena sedang menjalin hubungan dengan Tuhan bukan dengan sesama.
Ikutlah aktif menjadi anggota KBI yang pada waktunya nanti akan diperkenalkan kepada jemaat. Pengalaman ikut KTB di kampus akan sangat berguna untuk melancarkan KBI di GKI Jatinegara.
Akhir kata, Pemuda harus selalu berupaya untuk menjadi bagian dari solusi GKI Jatinegara dan jangan pernah menjadi bagian dari masalah. Tuhan Yesus memberkati.
Salam:
Pdt. Joseph Theo
Jumat, 03 April 2009
D’ COST & D’ CROSS
D’ COST & D’ CROSS
Oleh: Ev. Yoseph Gunawan
Krisis finansial mengakibatkan harga barang-barang menjadi semakin mahal. Rasanya tidak ada barang yang tidak mengalami kenaikkan harga. Hal ini membuat rakyat, khususnya yang hidup di bawah garis kemiskinan, semakin sulit memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga yang menjadi tuntutan rakyat yang seringkali disuarakan melalui demonstrasi adalah mengenai penurunan harga barang agar jadi lebih murah dan bahkan gratis untuk hal-hal tertentu (kesehatan, pendidikan, dll). Intinya kata “murah” atau “gratis” menjadi kata-kata yang sangat diidam-idamkan oleh rakyat karena dinilai dapat menyelamatkan hidup mereka. Lihat saja toko-toko yang menjual barang-barangnya dengan harga murah atau bahkan gratis, tak ketinggalan juga antrian sembako murah atau gratis maka gak usah pake lama barang-barang itu langsung amblas (cepat habis).
Di tengah keadaan ekonomi yang terpuruk, rakyat Indonesia disuguhkan dengan tayangan-tayangan yang sangat menggiurkan. Tayangan yang menawarkan jalan keluar yang kelihatannya mudah, murah dan membawa keuntungan besar. Sebut saja “REG SPASI…”. Setiap hari iklan seperti ini menghiasi dunia pertelevisian Indonesia. Hal ini menandakan bahwa orang menginginkan cara yang mudah, murah dan cepat untuk mencapai kesuksesan. Orang tidak lagi menyukai proses untuk mencapai kesuksesan. Sungguh ini adalah tawaran yang menarik.
Di kalangan kekristenan pun, bagi mereka yang mengagung-agungkan “theologi kemakmuran” beranggapan bahwa menjadi orang Kristen pasti hidupnya serba enak dan senantiasa mendapatkan berkat yang berkelimpahan. Siapa yang tidak ingin menjadi Kristen di tengah-tengah kondisi seperti ini apabila diiming-imingi dengan janji-janji hidup enak. Sehingga ada bermacam-macam motivasi yang timbul di dalam hati seseorang ketika mengambil keputusan untuk menjadi orang Kristen. Padahal banyak juga orang Kristen yang benar-benar mencintai Tuhan tetapi hidupnya tidak berkelimpahan secara materi tetapi berkelimpahan dalam hal rohani.
Menjadi Kristen itu mudah tetapi menjalani hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah karena itu adalah dua hal yang berbeda. Seseorang dapat menjadi Kristen cukup dengan rutin datang ke kebaktian, mengikuti katekisasi kemudian dibaptis lalu akan mendapatkan buku keaggotaan gereja. Tetapi bukanlah jaminan setelah menjadi Kristen maka pasti bisa menjalani hidup sebagai orang Kristen. Karena untuk menjadi murid (pengikut) Kristus dan menjalani hidup sebagai orang Kristen diperlukan yang namanya bayar harga.
Tuhan memberikan keselamatan kepada kita secara gratis. Efesus 2:8-9 berkata “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”. Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Efesus juga kepada kita yang hidup pada masa kini bahwa keselamatan bukanlah hasil dari usaha dan pekerjaan baik kita selama hidup di dunia ini tetapi murni pemberian Allah secara gratis kepada kita. Namun bukan berarti keselamatan yang gratis itu murahan, mutunya rendah apalagi tidak berguna.
Standard dunia biasanya menilai sesuatu yang gratis itu murahan, tidak berharga, tidak bermutu dan tidak berguna. Tetapi tidaklah demikian dengan keselamatan yang Tuhan berikan secara gratis kepada setiap orang yang percaya kepada-nya. I Petrus 1:18-19 berkata “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat”.
Senada dengan itu almarhum Pdt. Eka Darmaputera dalam bukunya “Harga Yang Harus Dibayar” menulis bahwa “Injil Kristus itu tidak pernah murah. Ia berharga nyawa Seorang Putra Allah. Injil Kristus juga tidak pernah mudah. Jalannya ialah via dolorosa, jalan penderitaan, jalan menuju salib. Karena itu seseorang yang hendak berpegang kepada Injil Kristus juga tidak akan mengalami hidup yang murah dan mudah. Ada harga yang harus dibayar”. Jadi, meskipun keselamatan itu gratis tetapi sebenarnya kita tidak akan pernah sanggup untuk membelinya karena keselamatan itu diberikan-Nya melalui pengorbanan Anak-Nya di kayu salib.
Satu hal yang harus disadari oleh setiap orang yang benar-benar ingin menjadi pengikut kristus adalah menjalani hidup yang tidak pernah murah dan mudah tetapi ada harga yang harus dibayar. Mengapa kita harus membayar harga? Dan untuk apa kita membayar harga? Rasul Paulus mengatakan dalam I Korintus 6:20, bahwa kita ini telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Dibeli dari siapa kita? Dari tuan lama kita yaitu dosa, dan dibeli secara lunas oleh kematian kristus di kayu salib, tidak kredit, tidak nyicil, apalagi ngutang! Bebaskah kita? Ya, Yesus membebaskan kita dari belenggu dosa yang berujung maut, kematian tanpa akhir. Namun ketika kita sudah dibeli, tidak sekonyong-konyong kita menjadi manusia bebas lepas, seperti burung lepas dari kandangnya, karena kita memiliki tuan yang baru yaitu Kristus yang membeli kita dengan hidup dan nyawa-Nya. Membayar harga di sini bukan berarti kita harus membayar kepada Kristus agar kita menjadi manusia yang bebas. Apa yang telah diberikan-Nya kepada kita tidak akan dapat kita bayarkan kembali!
Beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai wujud dari bayar harga adalah:
1. Menyangkal diri (Lukas 9:23)
Menyangkal diri dapat diartikan sebagai tindakan untuk mematikan kehendak pribadi dan kenyamanan diri. Seorang penafsir Alkitab yang bernama William Barclay menulis dalam bukunya “Menyangkal diri sendiri berarti, “Aku tidak mengenal diriku sendiri.” Hal itu berarti tidak mengenal eksistensi dari diri sendiri. Hal itu berarti memperlakukan diri sendiri sebagai yang seakan-akan tidak ada”. Dalam hidup ini biasanya kita memperlakukan diri kita sebagai yang paling penting dan yang harus diutamakan adalah kehendak diri kita. Sehingga kita seringkali tidak taat kepada kehendak Tuhan. Padahal apabila kita memperlakukan seakan-akan diri kita tidak ada maka seharusnya seakan-akan kehendak diri kitapun tidak ada. Maka dengan berani seharusnya kita berkata “Say YES to Jesus and Say NO to myself”. Belajarlah untuk mematikan kehendak pribadi dan kenyamanan diri untuk kemudian beralih kepada sikap taat sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
2. Memikul salib (Lukas 9:23)
Tentu saja memikul salib tidak dapat diartikan secara harafiah, yaitu dengan menaruh sebuah salib kayu yang berat dan kasar di pundak kita. Pikul salib artinya rela menanggung penderitaan bahkan berkorban nyawa demi Kristus. Pada masa Yesus, salib digunakan sebagai alat penghukuman bagi penjahat berat. Bukan hanya itu, salib juga digunakan sebagai alat untuk mempermalukan orang di hadapan umum. Ketika Tuhan meminta kita untuk memikul salib maka Ia menginginkan kita untuk mengikuti teladan-Nya, yaitu siap menanggung penderitaan bukan karena perbuatan kita, namun karena Kristus. William Barclay dalam bukunya menulis, “Memikul salib berarti siap-sedia untuk menghadapi penderitaan demi kesetiaan kepada Yesus; itu berarti siap untuk menjalani hal yang paling buruk demi kesetiaan kepada Yesus; berarti juga kesiapsiagaan untuk menjalani perlakuan yang sangat buruk yang dilakukan orang atas kita demi untuk menjadi benar kepada-Nya”. Sepanjang sejarah kekristenan mulai dari zaman PL, PB, dan sampai sekarang ini membuktikan bahwa mengikut Tuhan tidak pernah ada jaminan untuk selalu hidup enak. Para tokoh iman memberi contoh kepada kita bahwa dalam mengikut Tuhan harus selalu siap menanggung penderitaan. Dan Yesus sendiri tidak pernah berkata “If you follow Me everything is going well”. Alkitab mencatat dengan jujur bahwa ikut Tuhan juga harus bersedia menderita. Contohnya adalah Polikarpus. Dia adalah seorang anak Tuhan yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Karena imannya dia ditangkap oleh pemerintah Romawi kemudian diancam untuk dibunuh dengan cara dibakar hidu-hidup. Siapakah yang tidak ciut nyalinya jika menghadapi ancaman seperti itu? Lalu kepadanya ditanyakan, “Polikarpus, apakah engkau masih mau ikut Yesus? Kalau engkau tetap ikut Dia, saat ini pasti engkau tidak akan selamat. Tetapi jika engkau menyangkal-Nya maka engkau pasti akan selamat dari ancaman kematian”. Apa jawaban Polikarpus? Dengan serius dan tegas dia menjawab, “Sejak usia sembilan tahun aku telah mengenal kasih-Nya, dan sekarang aku telah berusia delapan puluh empat tahun, aku tidak pernah disakiti-Nya, bagaimana mungkin aku menyangkal Dia?” Akhirnya Polikarpus mati di dalam keteguhan imannya kepada Tuhan. Ini membuktikan bahwa dia rela menderita bahkan sampai berkorban nyawa demi Kristus. Apakah kita siap dan berani menderita bahkan sampai berkorban nyawa demi Kristus?
3. Mengikut Yesus (Lukas 9:23)
Mengikut Tuhan bukan hanya berbicara soal berjalan di belakang Tuhan, tetapi esensi yang lebih penting dari itu adalah menandakan pengabdian dan ketaatan kita kepada Tuhan. Mengikut Tuhan juga berarti berani meninggalkan segala sesuatu yang dapat menggantikan posisi Tuhan dalam hidup kita. Singkatnya kita harus menjadikan Tuhan sebagai yang terutama serta memuliakan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan kita. Seringkali di dalam proses mengikut Tuhan, kita tidak menjadikan Tuhan sebagai yang terutama. Lebih sering kita menjadikan Tuhan sebagai yang ke-2 atau nomer selanjutnya. Yang seringkali kita jadikan no 1 adalah diri kita sendiri, pekerjaan, study, hoby, harta benda, dll. Tanpa kita sadari kita sedang memberhalakan semuanya itu dan menduakan Tuhan. Jikalau kita menjadikan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup kita maka pengabdian dan ketaatan kita kepada Tuhan pun akan semakin besar.
4. Melayani Tuhan (Yohanes 12:26)
D C’ost adalah sebuah restaurant yang mempunyai moto “Mutu bintang lima, harga kaki lima”. Harganya murah tapi kualitasnya tidak murahan. Di bagian sebelumnya dikatakan bahwa dunia seringkali menilai sesuatu yang murah atau gratis itu pasti murahan, tidak berkualitas, gampang rusak, mengecewakan. Tanpa disadari konsep seperti ini sering kita bawa ke dalam gereja. Akibatnya pelayanan kita lakukan dengan asal-asalan. Karena kita berpikir bahwa keselamatan yang kita terima dari Tuhan juga gratis adanya. Dengan kata lain murahan, tidak bernilai, sepele. Sungguh ini adalah cara berpikir yang keliru dan harus dirubah. Keselamatan itu gratis dalam pengertian murni pemberian atau anugerah Tuhan. Sama sekali tidak ada andil manusia di dalamnya (bukan usaha dan pekerjaan manusia). Tetapi keselamatan yang gratis itu bukan berarti murahan karena:
A. Berharga nyawa Seorang Putra Allah.
B. Jalannya ialah via dolorosa, jalan penderitaan, jalan menuju salib.
Menyadari dua hal di atas maka kita akan berpikir seribu kali untuk mengatakan bahwa keselamatan yang gratis itu murahan. Karena keselamatan yang gratis itu ternyata mutunya luar biasa. Sehingga yang seharusnya tercermin di dalam pelayanan kita adalah:
A. Melayani dengan sungguh-sungguh
Tuhan tidak pernah mengerjakan karya keselamatan bagi umat manusia dengan setengah-setengah. Itu dilakukan-Nya dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu kita pun harus melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Semangat kita dalam melayani Dia adalah dengan semangat memberi yang terbaik karena Dia telah terlebih dahulu memberi yang terbaik kepada kita, yaitu Putra Tunggal-Nya untuk menjadi jalan keselamatan bagi kita yang berdosa. Sehingga kita yang seharusnya menderita dalam penghukuman kekal di Neraka dapat menikmati kebahagiaan kekal di Sorga bersama Yesus. Masakan kita tidak melayani-Nya dengan kesungguhan? Kalau untuk kita Yesus memberikan seluruh diri-Nya, 100 %, kurang adilkah kalau Ia juga menuntut dari kita 100 %, sebagai bukti kepercayaan, pengabdian, dan ketaatan kita kepada-Nya?
B. Melayani tanpa pamrih
Semangat memberi yang terbaik saja tidaklah cukup, tetapi harus dibarengi dengan jiwa yang melayani tanpa pamrih. Motivasi orang dalam melayani ada bermacam-macam. Salah satunya ada orang yang melayani dengan kesungguhan dan tak kenal lelah karena ingin mendapatkan pamrih (materi, pengakuan, pujian, sanjungan, jabatan gerejawi, dll) dan berkat berkelimpahan dari Tuhan. Seharusnya pelayanan yang kita lakukan adalah wujud dari ucapan syukur atas keselamatan yang Tuhan berikan. Kita melayani karena kita berterima kasih kepada Tuhan. Karena apa yang telah diberikan-Nya kepada kita tidak akan dapat kita bayarkan kembali meskipun dengan pelayanan yang sebaik apapun.
C. Melayani dengan sukacita
Semangat dan motivasi yang benar dalam melayani akan menjadi lebih sempurna apabila ditambah dengan hati yang bersukacita. Melayani tanpa sukacita akan membuat pelayanan semakin menjadi lebih berat. Mengapa terasa berat karena kita cenderung berpikir bahwa dalam pelayanan kita harus mengorbankan banyak hal, yaitu waktu, tenaga, konsentrasi, materi, dll. Ini yang lama-kelamaan akan membuat kita kehilangan sukacita dalam melayani karena kita berpikir dalam pelayanan kita selalu kehilangan dan tidak pernah mendapatkan. Apa yang kita berikan kepada Tuhan tidak akan pernah sebanding dengan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Yang menjadi dasar sukacita kita dalam melayani Tuhan adalah karena kita sudah mendapatkan jaminan keselamatan. Dialah Tuhan dan Raja atas hidup kita, mari layani Dia dengan sukacita.
Marilah dalam moment Jumat Agung dan Paskah ini kita tidak hanya merenungkan betapa besar kasih Allah bagi kita, yang merelakan Anak-Nya menjadi manusia, disiksa, disalibkan, mati, dikuburkan, dan bangkit bagi kita. Tetapi evaluasi diri apa yang sudah kita lakukan bagi Juruselamat kita? Sudahkah kita mengikut Dia dan menjadi murid-Nya dengan benar? Apakah kita sudah menyangkal diri, memikul salib setiap hari, mengikut Tuhan, dan melayani dengan benar sebagai wujud dari pengabdian dan ketaatan kita kepada Tuhan. Terlalu berharga keselamatan yang diberikan-Nya kepada kita. Sudahkah kita membayar harganya?




