Sabtu, 09 Juli 2011
Kamis, 24 Februari 2011
Minggu, 19 Desember 2010
AKHIR SEBUAH KEHIDUPAN
Kejadian 5:9-24: “ Ketika Enos hidup sembilan puluh tahun, ia memperanakan Kenan. Dan Enos masih hidup delapan ratus lima belas tahun, setelah ia memperanakkan Kenan, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Enos mencapai umur sembilan ratus lima tahun, lalu ia mati. Setelah Kenan hidup tujuh puluh tahun, ia memperanakkan Mahalaleel. Dan Kenan masih hidup delapan ratus empat puluh tahun..... dst hingga ayat yang ke-16.
Membaca nas ini terasa membosankan. Bahkan walaupun hanya 16 ayat, namun terasa panjang. Mengapa? Karena isinya begitu-begitu saja, tidak bervariasi. Itulah sesungguhnya hidup manusia, isinya mengulang, kering, membosankan: lahir, beranak pinak dan mati. Tetapi ketika pembacaan kita sampai pada ayat 21 tentang Henokh, kita seakan bertemu air di padang gurun. Ia sama tetapi sekaligus berbeda dengan orang-orang lainnya. Ia memberitahukan kepada kita hal-hal hakiki tentang kehidupan.
BUKAN PANJANGNYA, TETAPI ISINYA
Hidup itu yang penting bukan panjangnya tetapi isinya. Henokh berumur paling pendek dibandingkan dengan yang lainnya, usianya hanya 1/3 rata-rata orang zaman itu. Ketika yang lain berumur 900 tahun, Henokh hanya berumur 365 tahun. Berarti Ia mati muda menurut ukuran orang-orang di zamannya. Tetapi Ia memiliki catatan hidup yang sangat berbeda dibandingkan dengan yang lain. Bukan karena Ia lebih sukses dan lebih kaya, tetapi karena hidup pergaulannya dengan Allah.
· Bergaul dengan Allah adalah makna hidup yang tertinggi seorang manusia. Pergaulan ini seharusnya telah terjadi pada saat kita masih hidup di dunia ini, bukan hanya setelah kita hidup bersama Allah dalam kekekalan saja.
· Bergaul dengan Allah adalah sebuah gaya hidup (a way of life), bukan hanya sekedar hidup di dalam hukum Tuhan, haram dan halal atau bersifat moral belaka. Ketika itu 10 hukum Allah bahkan belum diberikan.
· Bergaul dengan Allah adalah esensi seorang manusia karena bergaul dengan Allah berarti akrab dengan Pencipta—satu-satunya yang berwenang dan tepat menjelaskan siapa saya, mengapa saya ada di dunia ini, apakah tujuan hidup saya.
· Bergaul dengan Allah berarti mengarahkan hidup kepada Allah yang ada di luar dan lebih besar dari hidup kita sendiri. Mereka yang hidup untuk materi menjadikan hidupnya kecil dan rendah. Mereka yang hidup bagi diri sendiri menjadi picik, egois, dan merusak.
· Bergaul dengan Allah berarti hidup menjadi gambar-Nya, menjadi reflektor (pemancar) keindahan Allah: karakter-Nya, moral-Nya, dst.
· Hidup bergaul dengan Allah berarti juga berani hidup berbeda dengan zaman.
Hal ini tampak menonjol dalam diri Henokh maupun keturunannya, Nuh, yang dicatat sebagai ” Seorang yang benar & tidak bercela di antara orang-orang sezamannya.” (Kej 6:9). Yesus Kristus adalah contoh yang ideal tetang bagaimana hidup bermakna: bukan dari lamanya, tetapi dari isinya. Ia hanya berusia 33 tahun ketika Ia meninggalkan dunia ini. Seluruh hidup-Nya bernilai kekal karena dalam segala hal Ia selalu berhubungan erat dengan Bapa Sorgawi-Nya.
Kita sering merasa ”sayang” ketika seseorang mati muda. Tetapi kalau matinya sudah tua, kita merasa hal itu wajar-wajar saja. Jadi kita mengukur hidup berdasarkan panjangnya, dan bukan isinya. Tidak heran kita terus berusaha memperpanjang hidup. Kita menganggap bahwa hidup lebih lama berarti lebih bahagia dan lebih bermakna. Karena itu pada hari ulang tahun kita mengucapkan ”selamat panjang umur” bukan ”selamat hidup makin bermakna”. Kita takut berumur pendek, tetapi tidak takut hidup tidak bermakna.
Berapa pun panjangnya hidup kita, tetapi suatu hari hidup kita di dunia pasti berakhir juga. Orang-orang yang disebutkan di dalam Alkitab ini semuanya mempunyai umur yang panjang, tetapi bukan hidup yang kekal. Panjang umur bisa juga berarti kesengsaraan bagi kita atau bagi orang-orang di sekeliling kita. Karena itulah lebih baik kita memiliki hidup yang berarti walaupun tidak berumur panjang.
Selain itu, pada orang-orang yang berusia lanjut seringkali muncul perasaan-perasaan yang sudah umum dialami oleh orang-orang sebayanya yaitu perasaan diri tidak berguna. Semakin ia berusaha menunjukkan bahwa ia berguna, semakin banyak masalah yang ditimbulkannya. Seringkali juga muncul perasaan bersalah dan menyesal atas kesalahan-kesalahan di masa lalu, serta perasaan takut kesepian, takut sakit, takut mati, dst.
Kecenderungan kita untuk memeperhatikan hidup dari sudut waktu bukanlah tidak penting. Musa dalam Mzm 90:12a mengatakan: ”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian...” Bagi kita menghitung hari adalah seperti ini: Sewaktu masih anak-anak, kita ingin sekali cepat-cepat tambah usia supaya dapat merayakan ulang tahun. Tahun terasa lama karena waktu dihitung dengan tahun sebagai ukurannya. Sampai dengan SMA atau kuliah, waktu mulai dihitung dengan semester. Ketika mulai bekerja, waktu mulai dihitung dengan bulan sebagai ukurannya, karena kita ingin cepat mendapat gaji. Memasuki usia tua, ukuran waktu yang dipakai pun akan menjadi lebih pendek dari mingguan sampai harian atau bahkan jam demi jam. Sewaktu anak-anak, umur kita hitung dengan penambahan. Semakin tua, perhitungan umur adalah pengurangan, ”tinggal sisa berapa lama lagi ya?”
Cara menghitung di atas sudah baik. Tetapi sebenarnya doa Musa masih ada kelanjutannya, yang menjelaskan maksud tujuan menghitung hari. Waktu dihitung bukan untuk mengetahui penjang pendeknya, tetapi agar ”kami beroleh hati yang bijaksana”. Maksudnya adalah bagaimana menjadikan waktu itu bermakna dalam hubungannya dengan Allah (bacalah ayat 13-17)
BUKAN DEPANNYA TETAPI BELAKANGNYA
Perhatikan nas di awal tersebut. Orang-orang yang hidupnya hampir seribu tahun, jika hidupnya dijadikan buku, entah berapa jilid banyaknya, tetapi hanya diringkas oleh Alkitab dalam 3 ayat pendek. Jika kita diminta menulis hidup kita sendiri seringkas-ringkasnya-tidak boleh lebih dari 3 ayat—bagaimana kita akan menuliskannya? Tentu kita harus memilih dan mencantumkan hal-hal apa saja yang terpenting bagi kita: nama, tanggal lahir & mati, siapa yang kita tinggalkan, dst.
Ringkasan ini kita kenal dengan sebutan ”obituari”. Orang tidak mencatat dalam obituarinya: harta, perusahaan, PT, CV, uang dolar, deposito, pendidikan, gelar, dst. Catatan itu meliputi kelahiran & kematian. Ini dua peristiwa paling penting dalam kehidupan kita. Tidak ada sejarah apapun yang kita ukir, tidak ada apa pun yag hari ini kita miliki. Kematian mencabut kita dari semua atribut yang kita miliki (misalnya, hartaku, mobilku, anakku, istriku, gelarku, bahkan tubuhku). Karena kematian ada di belakang kita, maka kita dapat berbuat sesuatu untuk memberi arti baginya. Kita berperan penuh dalam memberinya makna.
Menulis obituari ini penting karena hal itu dapat berfungsi sebagai panduan, sebagai visi atau gambaran besar mengenai bagaimana atau akan menjadi seperti apakah hidup yang kita kehendaki jika semuanya berjalan sesuai rencana. Dengan demikian, jika hidup kita sekarang belum cocok dengan apa yang kita inginkan kelak tercatat di obituari kita, maka ubahlah itu sekarang juga.
Tuhan Yesus melihat gambaran besar hidup-Nya sebagai ”mati bagi orang banyak”, dan ke sanalah Ia mengarahkan seluruh aktivitas hidupnya. Ia mengatakan ”sudah selesai” ketika visi itu dicapai-Nya. Apa yang tertulis di obituari adalah sasaran pusat hidup kita, bukan sekedar sasaran biasa. Menulis obituari berarti juga melihat hidup dari ”akhirnya”, bukan dari depan/ awalnya. Kita menggambarkan kelahiran sebagai bagian depan atau pintu masuk, sedangkan kematian sebagai pintu belakang atau akhir. Hidup harus dilihat bukan dari depan atau tengahnya, tetapi akhirnya. Seperti kita membaca cerita seri yang rumit, kita sering langsung saja melihat ke bagian akhirnya, karena ”akhir” menyingkapkan segala sesuatu dan memberi makna bagi apa yang ada, baik yang di depan maupun yang di tengahnya. Tanpa melihat dari pintu belakang, maka kita akan mengorientasikan pandangan hidup pada hal-hal sementara dan pemuasan hawa nafsu belaka, yang kelak ketika dilihat dari akhirnya merupakan kesia-siaan yang menyedihkan dan mengakibatkan penyesalan kekal.
Pada tahun 1923, suatu pertemuan penting diadakan di Hotel Pantai Edgewater di Chicago. Yang hadir adalah delapan orang raksasa dalam bidang keuangan yang terkuat di dunia.
- Presiden dari perusahaan baja terbesar
- Presiden dari perusahaan gas terbesar
- Spekulan gandum terbesar
- Presiden dari Bursa Saham New York
- Anggota kabinet presiden Amerika
- “Beruang” terbesar Wall Street
- Kepala dari monopoli terbesar di dunia
- Presiden Bank of International Settlements
Dari sudut pandang apapun, pria-pria ini telah mencapai sukses. Mereka telah menemukan rahasia untuk mendapatkan uang. Ketika mereka meninggalkan hotel tersebut, kehidupan mereka berbelok ke arah yang lain. Apa yang terjadi dengan mereka? Dua puluh lima tahun kemudian,
- Presiden dari perusahaan independen terbesar, Charles Schwab, mati dalam keadaan bangkrut, setelah hidup dengan hutang selama lima tahun terakhir sebelum kematiannya.
- Presiden dari perusahaan gas terbesar, Howard Hopson menjadi gila.
- Spekulan gandum terbesar, Arthur Cotton, meninggal di luar negeri, dalam keadaan bangkrut.
- Presiden dari bursa saham New York, Richard Whitney, masuk penjara Sing-Sing.
- Anggota kabinet presiden, Albert Fall, dibebaskan dari penjara agar ia bisa mati di rumah.
- “Beruang” terbesar Wall Street, Jesse Livermore, mati bunuh diri.
- Kepala monopoli terbesar, Ivan Krueger, mati bunuh diri.
- Presiden dari Bank Penyelesaian-penyelesaian International, Leon Fraser, mati bunuh diri.
Seandainya mereka bisa dan mau melihat hidup dari pintu belakang, dari bagian akhir, akan samakah cara mereka hidup? Melihat dari bagian belakang tentu jangan sebatas akhir di dunia karena itu belum akhir yang terakhir. Akhir yang paling akhir berada dalam kekekalan.
Dari sudut pandang manusia, kita tidak mampu melihat hidup dari akhirnya, namun Allah mampu. Maka bila kita hidup dalam firman-Nya, kita akan melihat dari perspektif Allah. Obituari adalah mega proyek hidup kita bersama. Seorang suami akan mendukung istri untuk mencapainya, begitu pula sebaliknya. Orang tua akan mendukung anaknya untuk mencapainya, begitu pula sebaliknya. Saling mendukung juga perlu terjadi dalam komunitas orang percaya sebagi tubuh Kristus. Keberhasilan seorang istri, suami, orang tua, anak, gereja harus diukur dari poin ini.
Ada baiknya perenungan kita ini ditutup dengan menjawab 4 pertanyaan besar berikut ini:
- Bayangkan Anda berdiri di pekuburan, melihat batu nisan Anda sendiri. Sekarang tuliskan ukiran yang Anda ingin tertera di sana. Mulailah dengan kata-kata: ” Di sini terbaring......”
- Tuliskan berita kematian Anda sendiri (tak perlu singkat). Penilaian yang seperti apa yang Anda harapkan dari orang-orang tentang hidup Anda
- Warisan apa yang ingin Anda tinggalkan saat Anda meninggal
- Sekarang Anda sudah siap menulis pernyataan misi hidup Anda. Apa tujuan akhir hidup Anda? Apa maknanya? Apa perjuangan Anda yang paling besar?
Kiranya firman-Nya menerangi hidup kita.
(sumber: Yohan Candawasa- Menapaki Hari Bersama Allah; Bab 1: Akhir Sebuah Kehidupan)
Renungan di Natal 2010
By: Lukas Christandy ( Wen-Wen)
Syalom saudara-saudara, tak terasa kita sudah sampai penghujung tahun 2010, bagaimana kabar kalian disana, baik-baik sajakah? kabar saya disini baik, tak terasa saya sudah di SAAT selama setengah tahun. Apakah saudara semua saat ini sedang sibuk mempersiapkan acara natal tahun ini? Wah kalau saya justru lagi sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir semester. Tiba-tiba oleh tim Lampros saya disuruh membuat satu artikel tentang sharing akhir tahun. Terima kasih buat kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbagi berkat buat saudara-saudara sekalian.
Begini sharing saya,
Di SAAT ada satu kolam ditengah-tengah sekolah ini, namanya kolam Petrus. Kenapa dinamai kolam Petrus? Ya karena ditengah-tengah kolam itu ada sepasang patung pahatan, Petrus dan Yesus. Masih ingatkah saudara tentang kisah Yesus berjalan di atas air? Nah patung pahatan ini menggambarkan kejadian ini, lebih tepatnya kejadian ketika iman Petrus mulai goyah karena angin kencang yang menimpanya, sehingga ia mulai tenggelam. Jadi kedua patung pahatan ini, di kiri ada Yesus yang mengulurkan tanganNya kepada Petrus, dan Petrus di sebelah kanan hanya tinggal separuh tubuh saja, dan berusaha menggapai tangan Yesus.
Buat saya pribadi, ini adalah gambaran yang luar biasa, karena ada berbagai pelajaran yang bisa ditarik dari gambaran ini. Yang pertama dan kita semua tahu, Petrus yang tenggelam itu mewakili kita semua manusia berdosa yang benar-benar butuh pertolongan. Kedua, tentang iman Petrus yang goyah, padahal dia sudah bisa berjalan diatas air, seperti Yesus. Karena terpaan angin dia menjadi bimbang (Mat 14:22). Terdengar familiar? Bukankah kita juga demikian adanya? Kita hidup bersama Kristus dalam keseharian kita, dan Dia telah mengijinkan kita berjalan diatas ‘air’ (semua masalah dalam dunia yang nampaknya mustahil). Bukan cuma Petrus yang bimbang, saya pun bimbang dalam banyak hal, padahal Tuhan telah memberikan anugerahNya kepada saya untuk bisa berjalan melampaui semua masalah tersebut. Bagaimana dengan saudara sekalian? Apakah juga sama dengan saya? Poin utamanya bukan bagaimana kita agar tidak tenggelam, karena pastinya semua orang termasuk anda dan saya tidak ada seorangpun yang mampu untuk tidak tenggelam karena kebimbangan hati kita. Poin terpentingnya adalah bagaimana kita selalu mengarahkan pandangan kita kepada Kristus yang sanggup mengangkat kita dari kebimbangan yang akan menenggelamkan kita.
Singkatnya, saya pun bimbang ketika memulai sekolah di SAAT, karena ketika saya memutuskan untuk mengambil program mandarin disini, ternyata kesulitannya sangat-sangat dikarenakan pelajaran yang harus saya ikuti adalah pengetahuan Alkitab yang disampaikan dalam bahasa mandarin. Tapi Tuhan ijinkan saya bisa menarik pelajaran berharga dari patung tersebut, dan kembali mengingat janji Tuhan yang ada dalam Alkitab, bahwa Dia dan hanya karena Dia, saya dan saudara-saudara dimampukan.
But He said to me, “My grace is sufficient for you, for My power is made perfect in weakness.” So, I will boast all the more gladly of my weaknesses, so that the power or Christ may dwell in me.
Saudara-saudara, menjelang hari natal yang segera tiba, mari kita mendekat kepadaNya, duduk diam dikakiNya, mendengarkan firmanNya. Hentikan segala hiruk pikuk dalam pikiran saudara, kebimbangan dan putus asa. Hanya diam, menikmati hadiratNya, kelahiranNya di dunia yang akan kita peringati sebentar lagi. Kristus telah datang demi saudara dan saya, untuk menyelamatkan kita semua. Kita hanya perlu percaya penuh padaNya, karena Tuhan Yesus akan memimpin saudara sekalian sampai pada kesudahannya. Solideo Gloria.
Minggu, 17 Oktober 2010
ALASAN MENGAPA AMERIKA TAKUT PERANG DENGAN INDONESIA
Tapi Pentagon membayangkan jika AS terpaksa harus menyerang Indonesia, berapa kerugian yang harus di pikul pihak AS dan berapa keuntungan pihak Indonesia dari kehadiran tentara AS di sana.
Begitu memasuki perairan daratan Indonesia, mereka akan di hadang pihak bea cukai karena membawa masuk senjata api dan senjata tajam serta peralatan perang tanpa surat izin dari pemerintah RI. Ini berarti mereka harus menyediakan "Uang Damai", coba hitung berapa besarnya jika bawaanya sedemikian banyak.
Kemudian mereka mendirikan Base camp militer , bisa di tebak di sekitar base camp pasti akan di kelilingi tukang Bakso, Tukang Es kelapa, sampai obral VCD bajakan Rp.10000 3 Pcs. Belum lagi para pengusaha komedi puter bakal ikut mangkal di sekitar base camp juga.
Kemudian kendaraan-kendaraan tempur serta tank -tank lapis baja yang di parkir dekat base camp akan di kenakan retribusi parkir oleh petugas dari dinas perpakiran daerah. Jika dua jam pertama perkendaraan dikenakan Rp. 10.000,- (maklum tarif orang bule), berapa yang harus di bayar AS kalau kendaraan& tank harus parkir selama sebulan.
Sepanjang jalan ke lokasi base camp pasukan AS harus menghadapi para
Pak Ogah yang berlagak memperbaiki jalan sambil memungut biaya bagi kendaraan yang melewati jalan tersebut. Dan jika kendaran tempur dan tank harus membelok atau melewati pertigaan mereka harus menyiapkan recehan untuk para Pak Ogah.
Suatu kerepotan besar bagi rombongan pasukan jika harus berkonvoi, karena konvoi yang berjalan lambat pasti akan di hampiri para pengamen, pengemis dan anak-anak jalanan, ini berarti harus mengeluarkan recehan lagi. Belum lagi jika di jalan bertemu polisi yang sedang bokek, udah pasti kena semprit kerena konvoi tanpa izin. Bayangkan berapa uang damai yang harus di keluarkan.
Di base camp militer, tentara AS sudah pasti nggak bisa tidur, karena nyamuknya busettt, gede-gede kayak vampire. Malam hari di hutan yang sepi mereka akan di kunjungi para wanita yang tertawa dan menangis. Harusnya mereka senang karena bisa berkencan dengan wanita ini tapi kesenangan tersebut akan sirna begitu melihat para wanita ini punya bolong besar di punggungnya.
Pagi harinya mereka tidak bisa mandi karena di sungai banyak di lalui "Rudal Kuning" yang di tembakkan penduduk setempat dari "Flying helicopter" alias wc terapung di atas sungai.
Pasukan AS juga tidak bisa jauh-jauh dari pelaratan perangnya, karena di sekitar base camp sudah mengintai pedagang besi loakan yang siap mempereteli peralatan perang canggih yang mereka bawa. Meleng sedikit saja tank canggih mereka bakal siap dikiloin. Belum lagi para curanmor yang siap beraksi dengan kunci T-nya siap merebut jip-jip perang mereka yang kalau didempul dan cat ulang bisa di jual mahal ke anak-anak orang kaya yang pengen gaya-gayaan.
Dan yang lebih menyedihkan lagi badan pasukan AS akan jamuran karena tidak bisa berganti pakaian. Kalau berani nekat menjemur pakaiannya dan meleng sedikit saja, besok pakaian mereka sudah mejeng di pasar Jatinegara di lapak-lapak pakaian bekas.
Peralatan telekomunikasi mereka juga harus di jaga ketat, karena para bandit kapak merah sudah mengincar peralatan canggih itu. Dan mereka juga harus membayar sewa tanah yang di gunakan untuk base camp kepada para pemilik tanah. Di samping itu mereka juga harus minta izin kepada RT/ RW dan kelurahan setempat, berapa meja yang harus di lalui dan berapa banyak dana yang harus di siapkan untuk meng-Amplopi pejabat-pejabat ini.
Para komandan pasukan AS ini juga akan kena tugas tambahan mengawasi para prajuritnya yang banyak menyelinap keluar base camp buat nonton dangdut di RW 06, katanya ada Inul di sana.
Membayangkan ini semua akhinya Bush dan Rumsfield memutuskan untuk mundur.
(sumber:www.indonesiaindonesia.com)
Perang Dunia 1
Perang ini dimulai setelah Pangeran Franz Ferdinand dari Austria-Hongaria (sekarang Austria) dibunuh anggota kelompok teroris Serbia, Gavrilo Princip di Sarajevo. Tidak pernah terjadi sebelumnya konflik sebesar ini, baik dari jumlah tentara yang dikerahkan dan dilibatkan, maupun jumlah korbannya. Senjata kimia digunakan untuk pertama kalinya, pemboman massal warga sipil dari udara dilakukan, dan banyak dari pembunuhan massal berskala besar pertama abad ini berlangsung saat perang ini. Empat dinasti, Habsburg, Romanov, Ottoman dan Hohenzollern, yang mempunyai akar kekuasaan hingga zaman Perang Salib, seluruhnya jatuh setelah perang.
(Sumber: http://id.wikipedia.org)
Perang Salib

"Allah menghendaki"
Perang Salib adalah kumpulan gelombang dari pertikaian agama bersenjata yang dimulai oleh kaum Kristiani pada periode 1095 – 1291; biasanya direstui oleh Paus atas nama Agama Kristen, dengan tujuan untuk menguasai kembali Yerusalem dan “Tanah Suci” dari kekuasaan Muslim dan awalnya diluncurkan sebagai respon atas permohonan dari Kekaisaran Byzantium yang beragama Kristen Ortodox Timur untuk melawan ekspansi dari Dinasti Seljuk yang beragama Islam ke Anatolia.
Istilah ini juga digunakan untuk ekspedisi-ekspedisi kecil yang terjadi selama abad ke 16 di wilayah di luar Benua Eropa, biasanya terhadap kaum pagan dan kaum non-Kristiani untuk alasan campuran antara agama, ekonomi dan politik. Skema penomoran tradisional atas Perang Salib memasukkan 9 ekspedisi besar ke Tanah Suci selama Abad ke 11 sampai dengan Abad ke 13. “Perang Salib” lainnya yang tidak bernomor berlanjut hingga Abad ke 16 dan berakhir ketika iklim politik dan agama di Eropa berubah secara signifikan selama masa Renaissance.
Perang Salib pada hakikatnya bukan perang agama, melainkan perang merebut kekuasaan daerah. Hal ini dibuktikan bahwa tentara Salib dan tentara Muslim saling bertukar ilmu pengetahuan.
Perang Salib berpengaruh sangat luas terhadap aspek-aspek politik, ekonomi dan sosial, yang mana beberapa bahkan masih berpengaruh sampai masa kini. Karena konfilk internal antara kerajaan-kerajaan Kristen dan kekuatan-kekuatan politik, beberapa ekspedisi Perang Salib (seperti Perang Salib Keempat) bergeser dari tujuan semulanya dan berakhir dengan dijarahnya kota-kota Kristen, termasuk ibukota Byzantium, Konstantinopel-kota yang paling maju dan kaya di benua Eropa saat itu. Perang Salib Keenam adalah perang salib pertama yang bertolak tanpa restu resmi dari gereja Katolik, dan menjadi contoh preseden yang memperbolehkan penguasa lain untuk secara individu menyerukan perang salib dalam ekspedisi berikutnya ke Tanah Suci. Konflik internal antara kerajaan-kerajaan Muslim dan kekuatan-kekuatan politik pun mengakibatkan persekutuan antara satu faksi melawan faksi lainnya seperti persekutuan antara kekuatan Tentara Salib dengan Kesultanan Rum yang Muslim dalam Perang Salib Kelima.
(Sumber: http://id.wikipedia.org)
Dan Tembok pun Runtuh Berserakan

Di Jerman Timur, satu dari sedikit negara Eropa Timur dengan penduduk mayoritas Protestan, selama empat puluh tahun gereja mencari cara untuk melayani “kota Allah” sementara hidup di “kota dunia” yang secara resmi ateis. Karena banyak jalur (seperti televisi dan radio) tertutup, sejak awal gereja mengambil langkah komitmen untuk mengurus anggota-anggota masyarakat yang paling menderita, terutama cacat parah. Dan mereka bertemu secara teratur untuk beribadah dan berdoa.."
Walaupun Yesus mengatakan bahwa “kerajaan itu ada di antara kamu,” sepanjang sejarah, gereja menghadapi godaan terus menerus untuk membentuk aliansi dengan pusat kekuasaan eksternal. Gereja AS menghadapi godaan yang persis demikian saat ini, dengan penekanan lebih pada politik daripada kerohanian. Namun di negara seperti Jerman Timur di bawah Komunisme, kemungkinan seperti itu tidak ada. Orang-orang kristen di sana tidak memiliki “basis kekuatan” seperti itu, sama sekali tidak ada, kecuali kekuatan kasih dan doa.
Namun terlepas dari segala rintangan, Saat untuk membuat suatu perubahan, akhirnya tiba di Blok Timur, gereja memimpin jalan dalam revolusi damai. Jerman Timur mengenang kembali tanggal 9 Oktober 1989 sebagai die Wende, “titik balik.” Peristiwa yang krusial terjadi, dengan cukup masuk akal, di Leipzig, sebuah kubu Reformasi di mana Luther berkhotbah pada abad keenam-belas dan Bach memainkan organ pada abad ke-delapan belas.
Selama tahun 1989, empat gereja Leipzig (termasuk gereja Bach, Thomaskirche) mengadakan persekutuan doa mingguan setiap Senin petang jam 5.00. Persekutuan doa itu sudah dimulai tujuh tahun sebelumnya, tahun 1982, ketika Pendeta Christian Fuehrer mengundang jemaatnya untuk berkumpul dan berdoa bagi perdamaian. Para pendeta menggunakan lagu rohani Lutheran kuno, berbicara pada jemaat dengan Alkitab di satu tangan dan surat kabar di tangan yang lainnya, dan memimpin doa bergilir. Dengan cara ini, mereka mencoba memberi arti dan harapan pada Jerman Timur yang terkepung. Mulanya, hanya beberapa orang Kristen yang hadir, paling banyak beberapa puluh.
Namun lambat laun, jemaat persekutuan doa ini mulai membengkak, bukan hanya menarik orang-orang Kristen yang setia, tetapi juga para pemberontak politik dan warga negara biasa. Gereja adalah satu-satunya tempat yang mendapat ijin kebebasan berkumpul dari pemerintah Komunis. Setelah setiap pertemuan, kelompok-kelompok ini bergabung dan berjalan di jalan-jalan gelap kota tua sambil memegang lilin dan spanduk—bentuk protes politik paling lunak. Bisa dikatakan setiap demonstrasi politik di seluruh negara ini dimulai dengan cara ini, dengan persekutuan.
Akhirnya, media berita dari Barat menangkap cerita ini. Merasa cemas, hirarki Komunis berdebat bagaimana caranya menghentikan barisan-barisan damai ini. Polisi-polisi rahasia mengepung gereja, kadang-kadang membubarkan barisan-barisan dengan kasar. Tetapi jumlah massa di Leipzig terus bertambah: ratusan, ribuan, kemudian mencapai 500.000.
Pastor Wonneberger dari gereja Saint Nikolai menermukan dirinya dalam peran tak terduga sebagai pemimpin de facto dari gerakan itu. Ia terus mengkhotbahkan perdamaian dan memberi nasihat-nasihat praktis tentang teknik anti kekerasan, bahkan tatkala polisi rahasia menelepon dengan ancaman mati dan memasang anggotanya untuk mengawasi di sekeliling gereja.
Tanggal 9 Oktober, hampir semua orang menduga tekanan politis mencapai jumlah massa kritis. Berlin Timur sedang merayakan ulang tahun negara Komunis yang ke-empat-puluh-sembilan dan memandang barisan massa di Leipzig sebagai provokasi. Polisi dan unit-unit militer bergerak besar-besaran ke Leipzig, dan pemimpin Jerman Timur, Erich Honecker memberi mereka instruksi untuk menembak para demonstran. Negara itu bersiap-siap untuk pengulangan adegan Lapangan Tiananmen. Uskup Lutheran Leipzig memperingatkan kemungkinan adanya pembantaian, rumah-rumah sakit mempersiapkan UGD mereka, dan gereja serta gedung-gedung konser setuju membuka pintu mereka, seandainya para demonstran membutuhkan tempat berlindung segera.
Ketika tiba waktunya untuk kebaktian doa di Gereja Nikolai, dua ribu anggota partai Komunis bergegas masuk untuk mengisi semua tempat duduk. Gereja kemudian membuka balkon-balkon yang jarang digunakan, dan seribu pengujuk rasa berkumpul di dalam. Christian Century melaporkan bahwa kebaktian itu sendiri merupakan titik balik: anggota-anggota Partai yang hadir dengan niat mengacaukan keadaan, untuk pertama kalinya menyadari bahwa gereja memang berusaha mengadakan perubahan damai.
Tidak seorang pun tahu pasti mengapa militer menahan tembakan malam itu. Egon Krenz, pengganti Honecker yang hanya menjabat sebentar, menerima pujian karena membatalkan perintah itu. Beberapa orang mengajukan teori bahwa Mikhail Gorbachev sendiri menelepon untuk memperingatkan Honecker. Lainnya percaya bahwa pasukan itu memang takut melihat banyaknya massa. Tetapi semua orang mengakui perjuangan doa di Leipzig-lah yang menyalakan proses perubahan bersejarah tersebut. Pada akhirnya, 70.000 orang berbaris dengan damai melewati pusat kota Leipzig. Senin berikutnya, 120.000 orang berbaris. Seminggu kemudian hadir 500.000 orang—hampir seluruh populasi Leipzig.
Pada awal November unjuk rasa terbesar terjadi, hampir satu juta orang berbaris damai menuju Berlin Barat. Eric Honecker mengundurkan diri, menanggung malu. Polisi menolak menembak para demonstran. Tengah malam tanggal 9 November, sesuatu yang tidak berani didoakan seorang pun akhirnya terjadi: sebuah celah terbuka di Tembok Berlin yang dibenci. Orang-orang Jerman Timur mengalir deras melewati pos-pos pemeriksaan, melewati penjaga yang selalu mematuhi perintah untuk “ menembak mati.” Tidak satu nyawa pun melayan saat kerumunan orang yang berbaris dengan lilin di tangan menggulingkan sebuah pemerintahan.
Seperti badai udara murni mengusir polusi, revolusi damai menyebar ke seluruh belahan dunia tersebut. Tahun 1989 saja sepuluh negara yang terdiri lebih dari setengah milyar penduduk—Polandia, Jerma Timur, Hungaria, Cekoslowakia, Bulgaria, Rumania, Albania, Yugoslavia, Mongolia, dan Uni Soviet—mengalami revolusi tanpa kekerasan.
Seperti yang ditulis Bud Bultman, seorang produser dan penulis CNN: “Kita dari media memandang dengan tercengang saat tembok-tembok totalitarianisme berguguran. Tetapi dalam ketergesaan untuk meliput peristiwa-peristiwa perubahan besar yang serba mendadak itu, kisah di balik kisah menjadi terabaikan. Kita menyorotkan kamera kita pada ratusan ribu orang yang berdoa untuk kebebasan dengan lilin menyala di tangan, namun kita melewatkan dimensi transedentalnya, karakter yang jelas-jelas rohani dan religius dalam kisah tersebut. Kita memandangnya di depan mata namun tidak dapat melihatnya”.
Namun beberapa orang dapat melihatnya. Orang-orang Jerman Timur masih membicarakan hari-hari itu sebagai keajaiban. “Apakah doa memang bisa memindahkan gunung atau tidak, yang jelas doa telah memobilisasi penduduk Leipzig,” lapor New Republic. “Mendengar mereka menyanyikan ‘Tuhan Benteng Kita yang Teguh’ sudah cukup untuk membuat Anda percaya.” Beberapa minggu setelah titik balik 9 Oktober spanduk besar muncul di sebuah jalan di Leipzig: Wir Danken Dir, Kirche (Kami berterima kasih padamu, gereja).
(Philip Yancey; Menemukan Tuhan di Tempat yang Tidak Terduga; Bab 25 Hlm 161-164)
by: AST






